about

about

Technology

Total Pageviews

Popular Posts

Search This Blog

AL JAMARAT

Share it:



Sebagian orang banyak yang tidak mengerti, dan menyangka bahwa tiang yang ada di jamarat, itu ada hubungannya dengan syaithan, ada juga yang mengira, bahwa syaithan ada di dalamnya. Karena itu, banyak kita saksikan, diantara mereka ada yang melempar dengan sandal, tongkat dengan sekuat tenaga, dengan keyakinan bahwa syaithan merasa sakit dengan lemparan itu. Padahal sebenarnya syaithan senang sekali dengana bentuk kebodohan seperti ini. Sebenarnya tiaang ini di dirikan di tengah lubang lemparan, hanya sebagai tanda tempat melempar yang pernah dilakukan oleh rasulullah saw. Tapi benar sekali bahwa syaithan merasa sakit dengan kepatuhan manusia kepada perintah Allah dan rasulnya, dengan melaksanakan ibadah yang dalam bentuk melempar.
Sejarah dan hikmah di syari'atkannya melempar jumroh.
Seperti yang tersebut dalam kitab " Mutsir al Gharam al Sakin ila Asyraf al Amakin " karya Ibn al Jauzi: Bahwa setelah Ibrahim as selesai membangun ka'bah, malaikat jibril datang dan mengajarkan twawaf, lalu dibawa ke jumrah 'aqabah, lalu syaithan menggoda, malaikat Jibril memberi tujuh kerikil kepada nabi Ibrahim as, diterima oleh nabi Ibrahim as. Lalu Jibril memungut tujuh kerikil lagi, dan berkata kepada nabi Ibrahim as: Lemparlah dan bertakbirlah! Lalu keduanya melempar dan bertakbir, sampai terbenam matahari, kemudian menuju jumrah wustha, dan syaithan datang menggoda lagi, lalu Jibril dan nabi Ibrahim melakukan seperti di jumrah ula, dan demikian juga di jumrah aqabah.
Adapun hikmah nya adalah, beribadah kepada Allah swt, mengikuti sayyidina Ibrahim as. Sallim bin Abi al Ja'd, dari Ibnu Abbas ra, bahwa nabi saw bersabda: " Setelah nabi Ibrahim as melaksanakan manasik, syetan datang mengganggu nya ketika di jumrah 'aqabah, maka melemparnya dengan tujuh kerikil, sampai masuk kedalam tanah, lalu datang lagi, di lempar lagi, untuk yang kedua kalinya, dan demikian sampai ketiga kalinya".
Ibnu 'Abbas berkata: " Kalian melempar syaithan dan mengikuti agama nenek moyang kalian". (HR Al Baihaqi). 
Sekali lagi, bahwa hikmah dari melempar jumroh, adalah menampakkan kehambaan kepada Allah, mengikuti perintah agama, menampakkan penyesalan atas kesalahan yang telah di perbuat, dan marah pada syaithan yg telah menipu manusia sehingga terjerumus dalam kesalahan. Seandainya di ucapkan, maka orang yang melempar jumroh itu seakan berkata: Pergi lah kau syaithan terlaknat, dulu saya mengikuti mu untuk berbuat ma'siat, tapi sekarang dan untuk seterusnya, tidak akan lagi, pergilah!".
Terjemahan dari kitab "Fi Rihab al Bait al Haram" bab Jamarat halaman 306 – 308. Karya Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki.
Di tulis oleh: Sulaiman Abdul Mustangin
Jakarta, 24 September 2013
Share it:

Sejarah

Post A Comment: